KOLOM: Saat Klopp PHP Liverpool

Tak ketinggalan pula muncul pihak-pihak yang dijadikan kambing hitam. Para pakar pun mengurai berbagai faktor yang membuat The Reds oleng walau sempat berada di atas. Kegagalan di bursa transfer, performa buruk lini belakang, skuat yang tak merata, hingga taktik yang tak fleksibel diangkat ke permukaan. Pada akhirnya, Klopp adalah pihak yang paling disalahkan. Setelah itu, ada beberapa pemain yang jadi kambing hitam. Sebut saja Lucas Leiva dan Emre Can yang mengecewakan dalam laga melawan The Foxes.
Tak bisa disangkal, sebagai manajer, Klopp memang sosok yang harus bertanggung jawab. Setidaknya, dia gagal mengidentifikasi kelemahan timnya sehingga gagal membuat antisipasi dan solusi. Masalah utama Liverpool sebenarnya adalah mentalitas yang buruk. Klopp seharusnya menyadari hal itu ketika mereka gagal menjuarai Piala Liga dan Liga Europa musim lalu.
Kekalahan dari Manchester City dan Sevilla di final dua ajang itu nyata-nyata menunjukkan para penggawa Liverpool tak punya cukup mental untuk juara. The Reds memerlukan para pemain dengan mental pemenang, bukan cuma sekadar Sadio Mane, Giorginio Wijnaldum atau Roberto Firmino. Mereka butuh pemain sekelas Alexis Sanchez dan Zlatan Ibrahimovic yang mampu mengubah situasi dengan aksinya.

Kegagalan meraih trofi pada musim lalu pun sebuah kerugian tersendiri bagi Klopp. Andai saja mampu juara, itu akan menumbuhkan kepercayaan diri anak-anak asuhnya untuk mengarungi kompetisi berikutnya. Sebaliknya, kegagalan tentu membuat para pemain kurang percaya diri, bahkan ketika berada di puncak sekalipun. Sangat mungkin di dalam hati mereka terbersit tanya, “Cukup baguskah saya untuk juara?”
Masih terkait dengan urusan mentalitas ini, Liverpool juga tak memiliki figur pemimpin. Di skuat saat ini, kebanyakan cuma nice guy. Tidak ada sosok yang mampu mengintimidasi lawan sejak melangkah dari ruang ganti ke lapangan dan menularkan gairah memangsa kepada rekan-rekan setimnya. Figur seperti ini pula yang mampu memompakan semangat ketika menghadapi tim besar dan tetap menjaga kewaspadaan kala meladeni tim semenjana. Henderson, Lallana, Philippe Coutinho, James Milner, Firmino, dan Mane bukanlah sosok seperti itu.
Dalam hal yang satu ini, The Reds kalah dari Chelsea dan Man. United. Awal musim ini, The Blues berhasil mendatangkan kembali David Luiz. Adapun Red Devils merekrut Zlatan Ibrahimovic. Keduanya tergolong figur pemimpin di dalam tim. Mereka bukan hanya mampu menularkan aura positif, melainkan juga sanggup menjadi pemutus kebuntuan. Keberadaan Chelsea di puncak klasemen Premier League saat ini tak terlepas dari faktor Luiz. Demikian pula kesuksesan Man. United menjuarai Piala Liga tak bisa dilepaskan dari faktor Ibra.
Tengoklah ke belakang, betapa banyak figur pemimpin yang ada di skuat Liverpool saat menjuarai Liga Champions 2004-05. Lihat juga skuat saat terakhir kali The Reds mengangkat piala pada 2011-12. Ada sosok-sosok pemimpin di sana. Saat membawa Dortmund back to back juara Bundesliga pada 2010-11 dan 2011-12, Klopp juga punya sederet pemimpin di lapangan. Sebut saja Sebastian Kehl, Roman Weidenfeller, Jakub Blaszczykowski, Mats Hummels, hingga Neven Subotic.

Setiap kali hasil buruk diraih tim asuhan Klopp, para fans Liverpool dengan mudah menunjuk ketiadaan pemain tertentu sebagai faktornya. Suatu waktu, itu adalah Coutinho. Berikutnya, dia adalah Mane. Terakhir, Liverpool kalah karena tak ada Henderson. Padahal, saat takluk 0-2 di kandang Hull, ketiganya bermain penuh. Tak satu pun yang ditarik ke luar lapangan oleh Klopp. Ini membuktikan bahwa ketika mereka ada pun Liverpool masih kehilangan sosok lain. Sosok itu adalah figur pemimpin dengan mentalitas pemenang.
Sepanjang The Reds gagal mendatangkan figur-figur pemimpin, sepertinya kisah php seperti musim lalu dan musim ini akan terus berulang. Tak peduli apakah sang “tuhan” masih ada di pinggir lapangan atau sudah dilengserkan, nasib The Reds sangat mungkin tak akan berubah. Sehebat apa pun manajer yang ada, dia butuh figur-figur seperti itu. Kecuali dia mampu menggandeng mesra Fortuna seperti Ranieri musim lalu.*Penulis adalah pengamat, jurnalis dan komentator. Tanggapi kolom ini @seppginz

elwakeel-ad.com pengeluaran togel singapura Sumber: Liputan6